Apakah ada yang salah dengan software yang tidak open source ?

Jika mendengar kata ‘software propietary’ mungkin yang langsung terlintas di pikiran kita adalah kata-kata seperti membayar, mahal, tidak open source, atau mungkin.. kapitalis. Dan jika membaca judul diatas, mungkin temen-temen semua akan berpikiran kalo tulisan ini adalah sebuah pembelaan terhadap software proprietary. Dan bahkan mungkin temen-temen akan berpendapat bahwa saya adalah orang yang membenci produk open source dan pendukung-pendukungnya.  Saya yakinkan bahwa hal-hal seperti itu yang mungkin hinggap di benak anda adalah tidak benar. Tulisan ini hanya bertujuan untuk membuka pikiran kita semua, termasuk saya, agar kita semua tidak menutup diri dengan yang namanya software proprietary, yang justru membuat sikap kita tidak sesuai dengan filosofi open source itu sendiri yang mengedepankan sifat ‘keterbukaan’. Hal ini penting dilakukan karena tidak sedikit orang yang berkoar-koar menghimbau kita supaya pikiran kita ‘terbuka’ dan tidak tergantung terhadap suatu platform , akan tetapi,  dia sendiri secara tidak sadar telah tergantung terhadap suatu platform dan telah menutup diri dari platform lain.  Lalu, apa gunanya mereka menghimbau kita untuk bersikap ‘terbuka’ dan tidak bergantung pada suatu platform, sementara mereka sendiri anti terhadap platform lain selain platform yang mereka gunakan. Bukankah justru mereka yang bersikap ‘tidak terbuka’ dan memiliki ketergantungan terhadap suatu platform ?? Bukankah justru mereka yang menyingkirkan sifat ‘keterbukaan’ dari paham open source dalam diri mereka ???

 

Tidak jarang saya temui artikel-artikel di internet maupun tulisan-tulisan di forum atau milis yang memojokkan software proprietary, seakan-akan software proprietary adalah barang haram yang tidak boleh dipakai bahkan dipelajari. Tidak jarang pula mereka mengecap Bill Gates, yang bisa dibilang adalah Mbah-nya Software Proprietary, sebagai seorang kapitalis, penyebar paham anti-open source , atau bahkan seorang raksasa penjajah yang membuat bangsa Indonesia tertinggal dengan bangsa lain. Mereka seakan-akan ingin agar Microsoft dan produsen software proprietary lainnya bangkrut. Padahal, menurut saya, tidak ada yang salah dari produsen software proprietary seperti Microsoft. Mereka hanya berbisnis, mereka besar karena usaha dan kerja keras mereka sendiri, mereka sukses dengan cara mereka. Jika kita tanya pada diri kita sendiri, ’Maukah bisnis yang kita bangun dengan keringat dan kerja keras tumbuh menjadi bisnis yang besar dan berjaya ?’. Saya yakin kita semua pasti akan menjawab ‘Ya’. Dan cara kita membesarkan bisnis kita berbeda-beda, ada yang memilih jalur open source dan ada yang tidak. Intinya lisensi pada suatu produk hanyalah salah satu cara bagaimana kita membesarkan bisnis dan usaha kita. Lalu, mengapa kita mesti mengecap dan menganggap produk non-open source adalah ‘salah dan haram’, dan produsen yang menghasilkan produk proprietary adalah ‘kapitalis’ ??? Hidup adalah pilihan, jika kita ingin pilihan kita dihargai orang lain, ada baiknya kita hargai pilihan orang lain.

Padahal jika kita mau melihat dari sudut pandang lain, tidak sedikit hal yang bermanfaat yang telah diberikan Microsoft dan Bill Gates terhadap Indonesia, bahkan dunia. Ingat prinsip Social Responbility, semakin besar besar suatu perusahaan, maka tanggung jawab sosialnya akan semakin besar pula. Dan saya lihat Microsoft bukanlah suatu perusahaan yang meninggalkan tanggung jawab sosialnya begitu saja. Sebagai contoh, lihat saja apa yang sudah dan akan dilakukan oleh Bill and Melinda Foundation, yayasan amal milik Bill Gates dan istrinya (Bisa dicek disini). Yayasan tersebut melakukan perbaikan di berbagai sektor kehidupan masyarakat tertinggal (terutama di Afrika) untuk mengentas kemisikinan seperti program pengembangan pertanian, kesehatan, dan pendidikan dengan memberikan berbagai macam beasiswa, dll. Belum lagi berapa banyak tulang punggung keluarga yang mencari nafkah dengan bekerja di Microsoft maupun produsen software proprietary lainnya. Dan contoh lain dari konstribusi Microsoft bisa di-Googling sendiri. Lalu, bagaimana mungkin sebuah perusahaan seperti ini bisa dibilang kapitalis ?

Penulis sendiri adalah seorang mahasiswa tingkat 3 jurusan IT di salah satu institute negeri di Indonesia, dan terus terang, penulis akan sangat kesulitan dalam menjalani kuliah  (terutama dalam mengerjakan tugas kuliah) dan pekerjaan jika penulis keuh-keuh tidak mau menggunakan software yang non-open source. Oleh karena itu,saya berusaha untuk menjadi orang yang oportunis dan terbuka. Jika memang apa yang saya butuhkan dapat dipenuhi oleh software open source, saya pasti akan menggunakan yang open source. Sebaliknya, jika memang tidak ada software open source yang dapat memenuhi kebutuhan saya, tidak ada salahnya saya menggunakan software non-open source. Sebagai contoh, untuk pekerjaan sehari-hari seperti coding, mengetik, entertainment, dan berinternet, semua sudah lebih dari cukup menggunakan full software open source. Namun bagaimana ketika diharuskan memakai software semisal Microsoft Office Project yang notabene adalah software berbayar ? Apakah saya harus tetap keuh-keuh tidak mau menggunakan dan akhirnya tidak mengerjakan tugas ? Tentu saja tidak.

Penulis pernah mendapat tugas untuk membuat diagram flowchart, yang tentunya jika ingin hasilnya bagus, penulis menggunakan Microsoft Visio. Akan tetapi saya pikir, kenapa tidak menggunakan DIA (Software sejenis Ms. Visio)  saja, yang pada waktu itu bahkan belum mencapai versi 1.0. Dan memang tugas tersebut dapat diselesaikan dengan menggunakan DIA, meski hasil akhirnya tidak sebagus Visio dan berujung pada nilai tugas saya yang tidak sebagus teman-teman lainnya  yang menggunakan Visio. Tetapi, penulis tidak pernah menyesal.

Pada akhirnya, sekali lagi, tulisan ini bukanlah suatu pembelaan terhadap software proprietary dan produsennya. Disini saya tidak menghimbau agar masyarakat menggunakan software open source maupun proprietary. Yang dapat saya katakan adalah, semua itu, baik software open source maupun proprietary adalah alternatif. Software berbayar adalah alternatif dari software open source, begitu juga sebaliknya,  software open source adalah alternative dari software berbayar. Tidak ada yang salah dari keduanya.

Pilihlah mana yang terbaik bagi anda, karena segala hal dalam hidup adalah pilihan, asalkan pilihan tersebut tidak merugikan orang lain.  Memilih memakai produk bajakan adalah pilihan yang merugikan orang lain, oleh karena itu hindarilah membajak dan carilah software open source yang sejenis. Namun apabila kita mempunyai uang lebih, maka tidak diharamkan bagi kita untuk membeli software proprietary untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Keberadaan software proprietary bukanlah untuk memberangus semua software open source dari muka bumi, begitu pula sebaliknya, keberadaan software open source bukanlah untuk membasmi semua software proprietary dari muka bumi. Keduanya saling melengkapi dan saya berharap keduanya akan terus berdampingan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan kita.

Bukankah segala sesuatu di dunia ini tercipta berpasang-pasangan ? ada cantik ada buruk, ada jelek ada baik, ada tinggi ada pendek, dan ………………. Ada proprietary ada open source.. :p

Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan Lomba Blog Open Source P2I-LIPI dan Seminar Open Source P2I-LIPI 2009.

Mohon Maaf jika ada khilaf ataupun kesalahan dalam penulisan, Kritik dan saran sangat diharapkan. Terima Kasih. Assalamu’alaikum wr wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: